Abuna DR. K.A.M. Jusufroni-Karakter & Etika Hamba Tuhan

August 22, 2008 by admin  
Filed under Gembala, Tokoh

Saat saya bertemu hamba-hamba TUHAN senior, lalu cerita kekayaan, saya jadi malu hati karena mereka tidak ada sedikit pun rasa malu membanggakan materi. Kita dipanggil untuk menyangkal diri dan memikul salib. Sekarang ini sepertinya orang tidak mau memikul salib karena ada teologia yang mengajarkan semua beres seperti lewat jalan tol. Sebagai hamba TUHAN, gembala sidang, tentu salibnya lebih berat dari yang lain. Penyangkalan dirinya lebih banyak dari yang lain karena posisinya. Masyarakat kita masih berpikir over estimate terhadap pendeta ataupun gembala. Mereka mau mengatur cara berpakaian, cara makan, khotbah semua mau diatur. Pendeta mana pun dengan permintaan seperti itu akan jadi stres, sehingga tidak bisa menjadi sahabat bagi majelis dan jemaat. Dari situ saya gambarkan orang yang paling kesepian di gereja adalah pendeta.

DUKUNGAN KELUARGA

Kalau pendeta punya pergumulan, beban doa, masalah, dia harus mengadu kepada siapa? Pendeta sebagai orang yang menghadapi tekanan dan pergumulan, apakah juga mendapat dukungan dari jemaat, majelis, dan terlebih dari keluarga sendiri? Ketika terjadi ketegangan, ketidakcocokan di tengah keluarga, anak tidak mengerti situasi yang dihadapi, pendeta dalam situasi seperti itu harus berbuat apa? Itulah yang saya lihat sebagai ketegangan-ketegangan yang sering dialami oleh hamba TUHAN. Sekarang ini jemaat harus berani mengubah persepsi bahwa hamba Tuhan juga manusia. Dia butuh sahabat dan dukungan. Memang, ada yang memberi dukungan, sayangnya mereka mendukung program, bukan pribadinya. Mereka berdoa untuk proyek, tetapi lupa berdoa bagi pendetanya. Ketika pelayanannya begitu sibuk, untuk recovery dari situ apa? Pendeta dituntut selalu tampil sempurna, sementara dukungan untuk jadi sempurna tidak ada. Bagaimana mengatasi ketegangan itu?Kalau di gereja Katolik ada biara yang tersedia bagi pastor untuk istirahat beberapa bulan sehingga ia disegarkan kembali. Mungkin saja biaya dan waktu jadi kendala karena kalau pendeta istirahat ia harus pergi sekeluarga. Pengalaman saya, dukungan keluarga itulah yang utama. Saya berbahagia karena keluarga betul-betul menyertai. Mereka tahu emosi dan kekurangan saya, dan mereka sangat mendukung dan melindungi. Jadi, dukungan keluarga itu bisa jadi refreshing. Kalau dukungan orang luar kita tidak tahu, tulus atau basa-basi.

KARAKTER & ETIKA HAMBA TUHAN

Ada peribahasa “orang yang memfitnah sesama saudara seiman itu ibarat memakan bangkai saudaranya sendiri”. Maksud saya, bisa jadi saudara kita itu jatuh, tetapi apakah kita senang dengan kejatuhannya?Saya prihatin hal seperti ini telah menjadi semacam infotainment dengan alasan beban doa. Sepertinya tidak ada beban rasa bersalah kalau kita menceritakan aib saudara kita itu ibarat kita makan mayatnya! Saya sendiri mengalami hal itu. Kita mencoba jujur, mengaku, tetapi 6 bulan kemudian pengakuan kita bisa dijadikan alat untuk memukul kita. Tadinya saya pikir mau meniru Alkitab, jujur dan mengaku, minta waktu untuk kontemplasi dan memperbaiki diri. Tetapi, ternyata pengalaman pribadi saya, kejujuran itu ternyata tidak ada harganya. Jadi, dalam penilaian saya, banyak orang percaya Yesus, menyembah Yesus, tetapi sedikit pun tidak memiliki karakter Yesus. Dalam Filipi disebutkan hendaklah kita sama seperti Dia. Kekristenan itu, sebenarnya perubahan yang paling besar adalah memiliki karakter Yesus. Kita kagum dengan Yesus, tetapi mengapa karakter Yesus tidak hidup dalam diri kita? Bangsa kita sudah kehilangan karakter. Gereja tidak menunjukkan karakter Yesus. Misalnya, di suatu gedung sudah ada gereja. Lalu ada kesempatan untuk bikin gereja, langsung disambar tanpa ada rasa malu. Kalau gereja kita jadi besar, tetapi air mata, sakit hati, dan kekecewaan hamba TUHAN lain juga banyak, apakah kita gembira hidup di atas ”mayat” saudara-saudara kita sendiri? Saya prihatin karena tidak ada kode etik dan etika sebagai hamba TUHAN. Saya dengar di depan gereja A dipasangi spanduk gereja lain. Masak kita mencari jemaat sampai tidak ada etikanya? Kita sewa orang untuk menyebarkan brosur. Dia tempelkan saja di mobil-mobil yang diparkir pada jam ibadah gereja lain. Orang semacam itu tidak punya etika. Jadi, harus ada etika sesama hamba TUHAN dan dalam mendirikan gereja. Etika hamba TUHAN itu harus dirumuskan dan ditegakkan. Dan, ini waktunya bagi PGI, PGPI, PGLII, atau apa saja untuk berunding dan merumuskan etika hamba TUHAN dan etika mendirikan gereja.

(Abuna DR. K.A.M. Jusufroni adalah Imam Al-Kanisah Gereja Kemah Abraham, Jakarta.)

Matius 12:18 “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.

Comments

One Response to “Abuna DR. K.A.M. Jusufroni-Karakter & Etika Hamba Tuhan”
  1. saya sangat setujuuuuu

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!