+62 31 596 3367 spiritsurabaya@yahoo.com

Monosodium Glutamat merupakan salah satu jenis bumbu dapur dan tergolong jenis garam-garaman yaitu garam sodium dari asam glutamat. Asam glutamat  adalah suatu asam amino yang merupakan salah satu komponen penting protein yang dibutuhkan tubuh kita. Bahan utama untuk membuat MSG yaitu asam glutamat yang terdapat pada tumbuhan, hewan, dan minyak  bumi. MSG yang beredar di Indonesia berasal dari tetes tebu yang merupakan hasil penggilingan gula dan dari bahan nabati yang dibuat melalui proses fermentasi. Fungsi utama dari MSG adalah menguatkan cita rasa makanan. Namun dibalik nama MSG, apakah benar MSG berbahaya bagi tubuh ? atau malah mempunyai sisi positinya juga ?

Penyedap rasa atau yang lebih akrab dengan sebutan micin memiliki kandungan monosodium glutamat yang terdiri dari air, natrium, dan glutamat. Dalam artikelnya di laman hellosehat, Dr. Ivena menulis bahwa kandungan asam glutamat itu dapat membuat sel-sel saraf otak lebih aktif dan membuat makanan menjadi lebih lezat. “Selama ini kebanyakan efek samping yang dilaporkan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG memang terjadi pada sistem saraf di otak. Karena itu, MSG secara tidak langsung bisa membuat seseorang jadi ‘lemot’,” tulisnya.

“Lemot” atau lemah otak adalah istilah yang dipilih Dr. Ivena untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif otak. Fungsi kognitif otak antara lain berpikir logis, mengambil keputusan, merekam informasi ke dalam ingatan, menyelesaikan masalah, dan menjaga konsentrasi. Mungkin akan timbul pertanyaan, apa hubungan penyedap rasa dengan kemampuan otak manusia? Dr. Ivena mengatakan, otak memiliki banyak saraf yang bertugas menerima berbagai macam rangsangan. Saraf yang bertugas menerima rangsangan disebut reseptor yang jumlahnya ada di bagian hipotalamus otak. “Nah, glutamat dalam penyedap rasa punya banyak reseptor yang ada di hipotalamus. Karena itu, efek kebanyakan glutamat di otak bisa membahayakan. Reseptor-reseptor dalam otak jadi terangsang secara berlebihan akibat kadar glutamat yang tinggi. Bila terus-terusan terjadi, alhasil aktivitas reseptor yang berlebihan malah bisa sebabkan kematian neuron,” ujarnya. Padahal, neuron yang merupakan sel-sel saraf berperan penting untuk menjalankan fungsi kognitif otak. Kematian neuron berarti fungsi kognitif otak turun dan menyebabkan seseorang menjadi lemot.

Menurut hasil evaluasi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Nutrition, penelitian yang membuktikan kerusakan otak akibat MSG memiliki beberapa kelemahan, yakni menggunakan subjek tikus atau primata (selain manusia), dalam dosis tinggi yang tidak mungkin terjadi pada manusia. Dan MSG yang diberikan dengan cara disuntikkan, bukan dikonsumsi dari makanan.
“Sampai saat ini bukti-bukti ilmiah tidak terbukti anak jadi bodoh karena terlalu banyak MSG. Ada beberapa orang yang hipersensitif terhadap MSG, itu betul,” kata Leona Victoria Djajadi, ahli gizi dari University of Sydney. Dijelaskan Leona, jika diberikan pada orang yang hipersensitif reaksinya bisa bermacam-macam, dari fisikal seperti gatal, pusing, mual, keringat dingin, sampai behavioiural (perilaku) seperti ADHD dan hiperaktif. Yang jelas, sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan efek berbahaya MSG terhadap otak. Dan berbagai badan kesehatan di seluruh dunia sepakat, MSG aman dikonsumsi selama tidak berlebihan. “Vetsin bikin bego? Enggak. Bahayanya mengandung natrium jadi risiko kesehatannya itu sama kaya garam. Hipertensi (jika berlebihan),” ujar Astri Kurniati, Nutrifood Research Center Manager.

Batas maksimal konsumsi MSG yang direkomendasikan WHO adalah 6 gram per hari. Sementara, Menkes RI merekomendasikan batas aman MSG sebanyak 5 gram. Rata-rata orang Indonesia hanya mengkonsumsi 0,65 gram MSG setiap harinya — sangat sedikit dibandingkan batas maksimal 5 atau 6 gram tersebut. Jadi kita sebenarnya nggak perlu khawatir, karena kans kita untuk makan terlalu banyak MSG kecil sekali.