Manusia memiliki miliaran sel dalam tubuh yang tumbuh dan berlipat ganda. Namun jika sel-sel yang terdapat di otak salah bermutasi dan mulai tumbuh secara abnormal, dapat jadi penyebab tumor otak primer.

Kemudian, apabila sel-sel tumbuh dengan cepat dan menyebar ke berbagai bagian otak maka berpotensi menghasilkan diagnosis kanker otak.

Sel kanker dapat tumbuh secara agresif dan menyebar ke bagian tubuh lainnya untuk membentuk jaringan baru. Sel kanker berbeda dengan sel tubuh lain karena tidak bisa mati dan rusak dengan sendirinya. Berdasarkan statistik National Cancer Institute (NCI) dan American Cancer Society, kanker otak sebenarnya merupakan penyakit yang jarang terjadi.

Dari keseluruhan pasien kanker baru, penderita kanker otak hanya sebesar 1,4 persen per tahun, sehingga tidak dianggap sebagai penyakit umum. Kendati demikian, peluang hidup penderita kanker otak diperkirakan kurang dari satu persen.

Kanker otak terjadi ketika sel-sel ganas kanker muncul dalam jaringan otak. Sel kanker tumbuh membentuk massa jaringan kanker (tumor) yang mengganggu fungsi otak seperti daya ingat, kontrol otot, dan fungsi tubuh lainnya.

Kanker dapat muncul dan menyerang seluruh organ karena berasal dari sel dalam tubuh manusia. Untuk jenis kanker otak, hampir 75 persen dari seluruh kasus pengidap kanker otak berawal dari tumor otak ganas. Sedangkan 35 persen lainnya disebabkan oleh penyebaran dari bagian tubuh yang sudah terkena kanker terlebih dahulu misalnya paru-paru, lalu sel-sel itu menyebar ke otak, ini dikenal sebagai kanker otak sekunder atau metastasis.

Jenis kanker otak primer yang paling sering diidap oleh orang dewasa adalah glioblastoma, atau tumor otak yang sangat agresif dan mematikan dengan tingkat kelangsungan hidup rata-rata 10-12 bulan. 

Glioblastoma sangat susah disembuhkan karena muncul dari sejenis sel otak astrosit. Sel-sel ini berbentuk seperti bintang. Ketika tumor terbentuk mereka mengembangkan tentakel, yang membuatnya sulit untuk diangkat sekalipun melalui pembedahan.

Selain itu, tumor berkembang dengan cepat karena memiliki akses ke sejumlah besar pembuluh darah, membantu sel kanker tumbuh dan menyebar dengan sangat cepat. Sebagian besar penyebab tumor otak tidak sepenuhnya diketahui, namun beberapa faktor risiko sudah dapat teridentifikasi. Para peneliti telah menemukan beberapa perubahan yang terjadi pada sel-sel otak normal yang dapat menyebabkan mereka membentuk tumor otak yang kemudian menjadi kanker.

Sebenarnya belum diketahui secara pasti penyebab kanker otak. Ditambah, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kanker di otak menular lewat trauma di kepala atau disebabkan oleh penggunaan telepon seluler. Mengonsumsi aspartam atau pemanis buatan yang diduga bisa menyebabkan kanker otak pun juga belum terbukti secara klinis.

Namun, sebagian besar penyebab yang melatarbelakangi terjadinya kanker adalah paparan karsinogenik yang merusak DNA. Contohnya, asap tembakau yang merupakan faktor risiko kanker paru-paru maupun kanker lainnya. Asap tembakau mengandung bahan kimia yang dapat merusak gen di dalam sel. 

Meskipun para peneliti sampai saat ini belum dapat menyimpulkan penyebab pasti tumor maupun kanker otak, namun terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan risikonya. Berikut penyebab dan faktor risiko kanker otak yang harus diwaspadai.

Jenis kelamin: Jenis kanker tertentu seperti meningioma, dua kali lebih mungkin berkembang pada wanita, sedangkan jenis medulloblastoma lebih sering ditemukan pada pria.


Umur: Frekuensi kanker otak meningkat seiring bertambahnya usia. Kebanyakan kasus dialami oleh orang berusia 65 atau lebih. Faktor usia bervariasi tergantung pada jenis sel dan lokasi tumor. Orang dewasa memiliki risiko yang sangat rendah untuk mengembangkan medulloblastoma, sementara glioma paling umum terjadi pada orang dewasa. Insiden meningioma dan craniopharyngioma jauh lebih sering terjadi pada orang dewasa di atas usia 50 tahun. Tetapi sekali lagi, tumor ini dapat terjadi pada semua usia.

Penderita HIV/AIDS: Beberapa orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak seperti HIV/AIDS memiliki peningkatan risiko pengembangan limfoma otak. HIV adalah virus yang perlahan-lahan menghancurkan sistem kekebalan tubuh, membuat anda rentan terhadap komplikasi atau kanker yang mengancam jiwa. Saat HIV dan AIDS melawan sistem kekebalan anda, sistem saraf pusat anda juga terpengaruh.

Riwayat genetik: Riwayat kesehatan keluarga dapat memengaruhi kemungkinan pengembangan penyakit tertentu. Penyakit Von Hippel-Lindau, sindrom Li-Fraumeni dan Neurofibromatosis (NF1 dan NF2) adalah kondisi bawaan yang ditemukan dalam keluarga dengan riwayat tumor otak yang langka. Namun, hanya terdapat sedikit bukti bahwa kanker otak merupakan penyakit yang turunan.

Paparan kimiawi: Paparan bahan kimia industri tertentu atau pelarut dikaitkan dengan peningkatan risiko berkembangnya kanker otak. Meskipun belum konklusif, bukti ilmiah menemukan kasus yang tinggi atas jenis tumor otak tertentu pada seseorang yang bekerja di kilang minyak, industri karet, serta obat dan pembalseman.


Paparan radiasi: Ada hal yang menjadi faktor risiko berkembangnya tumor otak primer yakni paparan radiasi pengion. Orang yang pernah menjalani terapi radiasi untuk kondisi medis lainnya, seperti leukemia, berisiko lebih tinggi terkena tumor otak primer. Radiasi pengion adalah faktor risiko kanker karena dapat menyebabkan kerusakan pada bahan genetik (DNA). Dampaknya yakni terjadinya mutasi yang menyebabkan sel berubah dan tumbuh di luar kendali. Sel-sel abnormal adalah salah satu ciri dari tumor otak ganas.

Selain itu, seseorang yang pernah menjalankan radioterapi pada usia muda, terutama sebelum berusia 5 tahun, dapat meningkatkan kemungkinan kanker otak berkembang. Sebagai contoh, anak-anak yang mengalami infeksi jamur atau kurap kulit kepala kadang-kadang diobati dengan terapi radiasi dosis rendah. Kemudian ditemukan tumor otak ketika mereka menginjak dewasa. Tumor otak ini biasanya berkembang sekitar 10 hingga 15 tahun setelah radiasi.


Perlu digarisbawahi bahwa terapi radiasi berbeda radiasi elektromagnetik yang dipancarkan dari gawai. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan ponsel sebagai karsinogen kelompok 2b, yakni zat yang dianggap mungkin sebagai karsinogenik, tetapi terbatas pada objek dan hewan percobaan. Laporan itu tidak mengatakan bahwa ponsel menyebabkan kanker otak.

Meski peneliti belum mempelajari lebih lanjut mengenai dampak  tingginya intensitas penggunaan ponsel, namun alangkah baiknya jika anda meminimalkan dosis radiasi elektromagnetik ponsel, dengan menggunakan earphone atau speaker yang tidak memiliki kedekatan langsung dengan otak.

Itulah penyebab dan faktor risiko kanker otak. Gejala kanker otak yang mungkin harus diwaspadai antara lain adalah pusing, muntah yang menyemprot atau menyembur, lumpuh, dan gangguan keseimbangan. Jika anda mengalami gejala-gejala seperti di atas segeralah ke dokter untuk mendiskusikan metode diagnosis, penanganan, dan tentunya mendapatkan pengobatan terbaik.

Sumber: cnnindonesia.com